Cara
Kita, Menentukan Segalanya
Kesadaran adalah hadiah terindah atau suatu hidayah dari Allah yang luar biasa. Tahap demi tahap, rintangan demi rintangan yang belum usai ataupun sudah terlewati. Ibarat tumbuh kembang tanaman dari biji sampai menjadi sebuah tanaman. Dimana semua itu butuh proses secara berkala. Sehingga patut dikatakan logis, bahwa suatu hal apabila prosesnya sempurna, maka hasilnya pun sempurna. Atau seperti halnya, apapun yang dikerjakan secara maksimal maka hasilnya juga maksimal. Jadi, dapat ditarik kesimpulan, apapun hasil yang kita peroleh, entah memuaskan atau tidak semua itu tergantung dari proses.
Namun kadangkala manusia hanya menilai dari hasilnya saja.
Itulah manusia. Lain halnya dengan Allah, bahwa Allah akan lebih menilai dari
prosesnya. Karena Allah Maha Tahu atas segala sesuatu
.
“Tujuan bukan Utama, tapi Proses yang Utama”. Itulah keyakinan. Keyakinan dibentuk juga berdasar proses. Semua manusia memiliki beragam keyakinan. Dan setiap keyakinan itu patut untuk dihargai. Sebab apa? Karna tahapan-tahapan proses yang dijalani oleh masing-masing individual itu sangatlah beragam. Jika difikir secara logika, kemungkinan besar bahwa setiap insan yang dilanda oleh masalah, 99 % dipastikan mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Hanya saja porsi penyelesaiannya, tergantung sejauh mana wawasan, ilmu atau pengetahuan, bahkan pengalaman yang diperoleh. Namun yang terpenting bukan seberapa banyak ilmu atau pengalaman yang diperoleh, namun sejauh mana pemahaman dan pengamalannya. Ilmu akan jauh bermanfaat apabila diamalkan.
"Keep Figthing for Succes. Don't give up" #LQA99_Netral_
Kita perlu menghargai berbagai karakter seseorang. Didalam agama Islam diajarkan toleransi terhadap sesama. “Lakum dinukum waliyadin”, Untukmu agamamu, untukku agamaku. Seseorang yang memiliki agama, jika memang mereka taat dengan agamanya, apapun yang diyakini didalam ajaran agama tersebut pasti diamalkan. Jadi, jika sudah taat dengan agama yang diyakini maka cenderung akan banyak pertimbangan dalam menyelesaikan masalah oleh sebab memakai kaca mata agama. Sudah merupakan hal lumrah bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang menurut kita karakternya kurang baik, tapi bisa jadi dia malah lebih baik dari kita. Manusia hanyalah pandai menerka, sedang Allah lah yang Maha Tahu. Jadi langkah bijaksananya tergantung perspektif masing-masing. Jika menurut kita, ada hal baik yang perlu di ambil, lebih baik diambil, begitupula sebaliknya. Semua manusia memiliki hak terutama dalam berkeyakinan, sehingga jika kita umat Islam adakalanya hanya sebatas saling mengingatkan, bukan memaksakan kehendak.
Sebaik-baiknya manusia ialah mereka yang bermanfaat. Serta manusia yang paling unggul dimata Allah ialah mereka yang selalu beriman dan bertaqwa kepadaNya. Bagaimanapun keputusan hidup ataupun arah jalan yang kita tempuh selama hidup ialah tetep berada di tangan kita masing-masing. Sehingga, yang mungkin perlu kita sadari bahwa apapun hasil jerih payah yang kita peroleh, kita patut mensyukuri yang ada. Toh itupun semua bukan salah siapa-siapa, melainkan jika hasilnya buruk, menyalahkan diri sendiri itu lebih baik. Jadi, secara otomatis kita akanlangsung berfikir bahwa ada hal yang perlu diperbaiki dari diri kita. Sebaliknya, jika hasil yang diperoleh itu menjadi baik, maka bersyukur sekali tidak lain semua itu karena Allah semata. Sehingga dengan prinsip demikian, Insya Allah hati menjadi tenang/damai, serta tak ada lagi yang patut disombongkan dari diri kita. Kita hanyalah manusia biasa yang tak sempurna. Dan yang patut menyombongkan diri hanyalah Allah, Sang Maha Sempurna.
Alhamdulillah, mudah-mudahan kita bisa menjalankan amal
ma’ruf nahi mungkar. Man jadda wa jada, janji Allah itu pasti. Percayalah,
bahwa Allah swt. tidak akan mengecewakan seorang hamba yang dekat denganNya.
Amiinnn Allahumma Amiinnn.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar